Kamis, 16 Juli 2009

Berita

Jumat, 11 April 2008 02:14:28
Ratusan Peserta Suluk di Langkat Sambut Kunjungannya
Akbar Ajak Pilih Pemimpin Bermoral
Kategori: Dari Redaksi
Akbar Berdoa di Makam Syekh Abdul Wahab

Di tengah hiruk pikuk kampanye pilkada Sumatera Utara, Akbar Tandjung menyempatkan diri berkunjung ke tanah kelahirannya tersebut. Bukan dalam rangka kampanye, melainkan menghadiri undangan Syekh H. Tajuddin pimpinan Pesantren Modern Babussalam, Langkat, Sumatera Utara, Kamis (10/04/08).

Undangan tersebut dalam rangka memperingati Haul Syekh Abdul Wahab Rokan al Khalidi Naqsyabandani, atau singkatnya Syekh Abdul Wahab. Ia adalah tokoh ulama Thariqat Naqsyabandiah yang mempunyai ratusan ribu jamaah yang tersebar di seluruh Indonesia sampai Malaysia.

Kini, pesantren dan makamnya selalu diziarahi oleh tokoh-tokoh lokal dan nasional untuk mengenang jasanya. Pesantren ini terletak di Besilam, kecamatan Padang Tualang, kabupaten Langkat, terkenal sebagai perkampungan religius. "Saya sengaja menyempatkan datang hari ini memenuhi undangan pimpinan pesantren Babussalam", kata Akbar. Menurutnya ia sudah sejak lama mengenal pesantren ini dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar pesantren.

Kedatangan Akbar disambut oleh para sesepuh, pimpinan dan santri yang sudah menanti sejak pagi. Rombongan Akbar diterima langsung oleh tuan rumah Syekh H. Tajuddin di rumahnya. Syekh H. Tajuddin merupakan keturunan Syekh Abdul Wahab. Acara dimulai dengan ramah tamah dan memperkenalkan silsilah keluarga Syekh Abdul Wahab oleh Syekh H. Tajuddin.

Pimpinan Pesantren Modern Babussalam itu menjelaskan sejarah pesantren dan perkembangan Thariqat Naqsyabandiyah. "Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Pak Akbar, semoga silaturahim ini membawa keberkahan bagi kita", ujar Syekh H. Tajuddin.

Dalam kesempatan itu Akbar sempat memimpin sholat Dzuhur berjamaah di rumah Syekh H. Tajuddin. Ditemani oleh beberapa anggota keluarganya Syekh H. Tajuddin kemudian menjamu makan siang Akbar dan rombongan. Suasana sederhana dan bersahaja tidak mengurangi keakraban di antara kedua tokoh tersebut. Sambil berbincang-bincang keduanya duduk lesehan membaur dengan keluarga dan kerabat. "Inilah nikmat kebersamaan, semuanya jadi indah", ujar Akbar sambil mempersilakan makan. Akbar memang dikenal sederhana dan bersahaja.

Setelah santap siap acara dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah suluk (tempat berdzikir). Sudah menunggu disana ratusan jamaah peserta suluk yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan, ada yang sengaja datang dari Malaysia. Para jamaah laki-laki dengan antusias menyambut kehadiran Akbar di luar rumah suluk. Sementara di dalam rumah suluk jamaah wanita yang dipisah dengan pembatas juga sudah menunggu.

Akbar memberikan sambutan dan tausyiah kepada para peserta suluk. Akbar merasa terharu bisa bersilaturahim dengan para peserta suluk. Apalagi ia terkenang dengan masa kecilnya yang ia habiskan di kota Medan sebelum pindah ke Jakarta. "Saya ingat betul sekitar usia tujuh tahun saya habiskan di daerah ini, saya jadi kembali terkenang kisah-kisah lalu", ceritanya.

Akbar juga sudah merasa sebagai bagian dari keluarga besar pesantren yang dikenalnya sejak masih muda. "Saya sudah tahu pesantren ini sejak saya masih muda, oleh karenanya saya merasa bagian dari keluarga pesantren ini", ujar Akbar.

Selanjutnya Akbar mengingatkan pentingnya membina hubungan baik antara umaro dan ulama. Menurutnya ulama berperan besar dalam pendidikan agama yang menentukan karakter bangsa nantinya. "Pendidikan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan bangsa dewasa ini, bahkan dalam amandemen UUD 1945 disebutkan bahwa anggaran pendidikan itu minimal 20%", tegas Akbar. Ia berharap banyak terhadap keikutsertaan kalangan ulama dan pesantren khususnya untuk membantu pendidikan nasional.

Selain soal pendidikan Akbar juga menyampaikan bagaimana tahun-tahun terakhir bangsa Indonesia sudah mencapai beberapa kemajuan. "Sejak jaman Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Pak Abdurachman Wahid dan Ibu Megawati serta sekarang Pak Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa Indonesia sudah mengalami perubahan dan kemajuan di berbagai bidang, salah satunya adalah demokratisasi", kata Akbar.

"Salah satu komponen demokrasi terpenting adalah partai politik", jelas Akbar kepada para peserta suluh. Oleh karena itu ia sangat berharap partisipasi politik masyarakat dalam menggunakan hak politiknya dilakukan dengan sebaik-baiknya. Peran ulama dan pesantren dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat dalam menggunakan hak-hak politiknya. Ia mencontohkan dinamika pilkada di Sumatera Utara yang diikuti banyak calon gubernur merupakan perwujudan demokratisasi.

Partisipasi politik yang dimaksud Akbar adalah dengan menggunakan hak pilih sebagai wujud konkret hak politik warga negara. "Pilihan kita akan menentukan siapa yang akan memimpin kita dan tentu kita mau pemimpin yang baik", lanjutnya. Oleh sebab itu Akbar mengajak alim ulama dan kalangan pesantren untuk bertanggungjawab dalam menggunakan hak pilihnya. "Pilihlah sesuai dengan hati nurani", simpulnya.

Menyoroti kepemimpinan nasional menurut Akbar harus selaras dengan apa yang diajarkan agama. "Menurut agama pemimpin yang baik itu memiliki empat syarat yaitu sidiq, amanah, tabligh dan fathonah", terang Akbar. Menurutnya empat syarat tersebut masih sangat relevan untuk menjadi syarat pemimpin nasional saat ini dan ke depan. Pemimpin rakyat haruslah yang jujur, dapat dipercaya, menyampaikan secara terbuka (prinsip transparansi) dan cerdas serta bijaksana dalam mengambil keputusan untuk kepentingan rakyat.

Sebagai penutup Akbar berpesan agar alim ulama dan kalangan pesantren selalu aktif turut serta dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk dalam hal penguatan demokratisasi melalui instrumen pemilihan umum. Hak politik warga negara menurutnya diwujudkan dalam bentuk hak pilih yang harus digunakan secara baik. "Tahun 2009 kita sudah punya jadwal pemilu legislatif dan presiden, cermati dengan baik siapa yang akan kita percaya untuk memimpin bangsa ke depan", kata Akbar.

Dalam kunjungan tersebut Akbar juga menyempatkan diri berziarah ke Makam Syekh Abdul Wahab dan meninjau gedung belajar Pesantren Modern Babussalam.

(dhyt)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar